Beberapa Dokumentasi Diskusi Buku di Jember

Diskusi ini bertempat di Aula Sporthall Univ.Jember, pada tahun 2010, tepatnya 11-3-2010, Pembicara; Nurani Soyomukti, Nuran, dan Dwi Pranoto dengan moderator saudari Rizqillah. Diskusi berlangsung seru dan dihadiri para pegiat seni dan aktivis pers mahasiswa. Buku yang dibahas kala itu adalah buku Nurani S; Seni-Sastra dan Budaya Anti-Imperialis Sebelum dan Sesudah Soekarno.

Revolusi Kebudayaan Indonesia


Foto diambil oleh Erwin Bachtiar. Acara ini terselenggara berkat kerja keras para awak UKPKM Tegalboto dan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) Kota Jember.

Diskusi berikut ini adalah buku Nikotin War karya Wanda Hamilton. Pembicara; Bambang Teguh K, Wahyu Basjir dan M. Sobary. Acara ini juga diisi dengan monolog “Rara Mendut “Whani Dharmawan. Bertempat di gedung Multimedia Fak.Ekonomi Universitas Jember tepatnya pada 19-7-2010.

foto diambil oleh Aulia Rahman. Acara ini diadakan oleh LPME Ecpose dan PPMI Kota Jember yang bekerjasama dengan Insist, Spasi Media dan IIB.

Diskusi ini tentang kumpulan Puisi oleh Akhmad Taufiq dalam buku “Kupeluk Kau di Ujung Ufuk”. Pembicara kala diskusi; Cak Isnadi, Akhmad taufiq dan di moderatori oleh Edi Wibowo. Bertempat di aula POMA Fak.Ekonomi Univ.Jember pada tanggal 7-20-2011. Acara ini juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh M.Irsyad Zaki dan penulis buku Akhmad Taufiq.

Foto diambil oleh Aulia Rahman. Acara ini terselenggara berkat kerja keras para awak LPME Ecpose dan PPMI Kota Jember yang berkerjasama dengan Gress Publishing.

Selanjutnya diskusi buku Teater Kedua karya Afrizal Malna. Diskusi berlangsung di gedung Lemlit Univ.Jember pada 7-4-2011. Pembicara; Afrizal Malna, Titarubi, Abdo El Azis dan moderator Antariksa Id.

Foto diambil oleh Arman Dhani Bustomi. Acara ini terselenggara berkat kerja keras Kelompok Rumah Kata Jember dengan Puslit Universitas Jember.

Lagi-lagi diskusi buku diadakan di Fak.Ekonomi UJ, kali ini bertempat di Aula Ormawa. Diskusi buku kali ini membedah Novel Wina Bojonegoro; The Souls yang didampingi oleh Cak Isnadi dan Oryza Ardiansyah. Bertindak sebagai moderator adalah pegiat persma Ecpose, saudari Imanda Dea Salsabilla. Acara ini berlangsung selama 3 jam yang berdebat tentang perlunya penulisan karya sastra yang lebih teratur serta dibukukan agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Sejatinya proses karya para sastrawan Jember masih tergolong sedikit. Acara kali ini dihadiri para pegiat seni, aktivis persma dan Mahasiswa.

Foto diambil oleh Arman Dhani Bustomi. Acara ini terselenggara berkat kerja keras awak LPME Ecpose dan Kelompok Tikungan.

Impian dan harapan komunitas Taring Padi untuk mendokumentasikan seluruh kerja dan karya selama 13 (tiga belas) tahun berdiri dalam sebuah buku yang berjudul “Seni Membongkar Tirani” telah menjadi kenyataan. Buku ini dibedah di beberapa kota, salah satunya di Jember. bertempat di Gedung PMI Jember. Acara ini berlangsung terlambat dikarenakan hujan yang sangat deras melanda Jember. Acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan Dendang Kampoengan, pembacaan puisi oleh Abdul Gani, pegiat seni UKM DKK Sastra Unej.

Foto diambil oleh Arimacs Wilander. Acara ini diselenggarakan oleh Kelompok Tikungan yang berkerjasama dengan MixMedia, Kelompok Sindikat Jember dan Taring Padi.

29/12/2011  Leave a comment

Sugesti

Bocah lugu asli Jombang berusia 10 tahun tak pernah mengira dirinya akan sangat sibuk layaknya seorang artis terkenal. Bukan untuk diminta tandatangan ataupun berfoto bersama, melainkan karena sebuah ‘batu ajaib’ yang mampu menyembuhkan pelbagai penyakit. Batu yang konon katanya ditemukan ketika ponari disambar petir. Hanya dengan mencelupkan ‘batu ajaib’ tersebut ke dalam segelas air lalu diminumkan pada si sakit maka penyakitnya hilang seketika. Kabar ini beredar begitu cepat, hingga ke daerah luar Jombang, masyarakat pun berbondong-bondong mengantri hanya untuk minum air celupan batu ajaib dari tangan ponari. Berbekal 2.000 rupiah saja maka pasien mendapatkan segelas air ajaib. Uang itu sebenarnya bukan merupakan tarif berobat melainkan infaq, alhasil banyak pasien yang berinfaq lebih dari itu. Pasien ponari pun beragam kalangan, ada dari masyarakat miskin hingga masyarakat kelas atas seperti pejabat, artis hingga orang kaya.

Banyak spekulasi bermunculan, bahkan berita ponari ini menghiasi headline media umum kala itu. Ada yang berpendapat bahwa batu itu memiliki kekuatan magis yang dapat menyembuhkan bermacam penyakit. Ada yang berkata bahwa ponari berasal dari keturunan yang memiliki kekuatan magis dan batu itu hanyalah perantara kekuatan ponari. Lepas dari spekulasi itu semua, pasien yang rela mengantri mengatakan bahwa mereka hanya ingin sembuh. Ada pasien yang menderita migrain datang ke ponari langsung sembuh, ada juga yang menderita stroke datang ke ponari dan ‘konon’ sembuh. Lepas dari apakah si pasien seratus persen benar-benar sembuh atau juga malah tak berpengaruh apa-apa. Dari sini bisa dikatakan sugesti batu ajaib ponari mampu membuat pasien merasa sembuh.

Masyarakat miskin sangat susah sekali mendapatkan akses pelayanan kesehatan ketika sakit. Ditambah lagi pengetahuan tentang penyakit pun sangat minim. Kalau kita cermati mengapa begitu banyak model pengobatan diluar pengobatan normal –notabene menggunakan obat dan resep dari dokter–. Hal tersebut bukan tanpa sebab. Rata-rata si sakit akan merasa tersugesti kepada orang yang punya pengetahuan lebih tentang obat dan penyakit. Sehingga dukun, ahli herbal, dan dokter akan selalu terus punya pasien. Di era kebebasan informasi saat ini pengetahuan akan penyakit dan bagaimana cara menanggulanginya dapat diakses masyarakat dengan mudah.

Bagaimana dengan masyarakat yang televisi tak punya, radio tak punya, koran pun tak ada, buku pun terlalu mahal untuk dibeli. Bagaimana cara mendapat informasi tersebut. ada banyak cara untuk mengatasinya. Masyarakat Indonesia masih lebih berbudaya daripada masyarakat luar. Tata krama, tata susila hingga hubungan kekerabatan antara sesama masih sangat erat dan terjaga. Hal inilah yang harus kita jadikan sarana untuk memberikan informasi tentang kesehatan. Peran pemerintah sudah sangat baik, dengan adanya Puskesmas dan Posyandu di tiap-tiap daerah. Namun kurangnya tenaga kesehatan dan implementasi kerja (pelayanan kesehatan) yang merata ke seluruh lapisan masyarakat.

Peran perangkat desa perlu untuk digiatkan lagi. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat bisa dimasukkan dalam kegiatan kerja perangkat desa. Tenaga kesehatan yang terlatih harus ditempatkan di tiap-tiap daerah. Kalau pun tidak ada, minimal akses informasi tentang kesehatan harus mudah dijangkau. Dengan sistim semacam ini, masyarakat di tiap-tiap daerah akan tersugesti dengan sendirinya. Tak perlu lagi harus bingung mau menggunakan bermacam-macam jenis pengobatan. Pelayanan kesehatan pun akan lebih merata dan mudah dijangkau masyarakat.[]

08/12/2011  Leave a comment

Media Persma dalam era Kekinian

“Apakah Media Persma saat ini bisa dikategorikan sebagai media penyadaran, pencerahan masyarakat dan perlawanan atas penindasan, ataukah hanya sebagai media alternatif belaka, ataupun hanyalah media kampus semata?”

Secara definisi tentulah kita harus ingat bahwa persma adalah penerbitan pers (dalam bentuk majalah, tabloid, newsletter, atau media online-website) yang benar-benar dikelola oleh mahasiswa. Seluruh proses mencari berita (informasi), penulisan, tata letak, cetak dan distribusi dilakukan sepenuhnya oleh mahasiswa. Ada banyak persepsi tentang apa itu persma; Sebagai tempat latihan menulis, tempat pengkaderan, tempat penyaluran hobi, tempat bersenang-senang, tempat mencari jaringan, teman bahkan pacar.

Teori dasar organisasi selalu mensyaratkan adanya tujuan yang sama. LPM yang tercerahkan dalam tujuannya selalu mengambil keberpihakan kepada rakyat, masyarakat banyak yang termarjinalkan, juga berpihak pada kebenaran. Terkait dengan informasi (media informasi) selalu mengarah pada informasi milik rakyat yang menuju pada kedaulatan rakyat, atau masyarakat madani. Secara umum bisa ditarik benang merah bahwasanya persma adalah organisasi untuk mewujudkan cita-cita bersama. Apa itu cita-cita bersama; bahwa persma lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan melalui kegiatan jurnalistik dalam sebuah media.

Proses kerja mulai dari mencari berita, mengolah, menginformasikan, mencetak dalam sebuah produk lalu mendistribusikan ke publik yang dilakukan oleh persma hampir bisa dikatakan sama dengan yang dilakukan pers umum. Akan tetapi kita (persma) tidak benar-benar sama dengan pers umum. Pertanyaannya mengapa demikian? Jawabannya lagi-lagi persma lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni media umum.

Embel-embel mahasiswa yang melekat pada kata ‘pers’ mempunyai arti yang cukup unik, berat dan ‘konon’ idealis. Mahasiswa adalah ras yang berbeda dengan manusia lain dari segi umur, imajinasi, intelektual, dan kebebasan berfikir, yang sering diartikan pelopor terdepan, generasi masa depan, agen perubahan. Contoh riil adalah peristiwa 98, dimana mahasiswa sebagai garda terdepan perubahan.

Atau melihat jauh ke belakang lagi: gerakan mahasiswa Indonesia di tahun 60-70-an, yang tak luput dari pengaruh flower generation di Barat, pernah memiliki kekuatan yang ampuh untuk turut membentuk budaya dan masyarakatnya. Pertanyaannya: bagaimana dengan generasi saat ini, dimana lingkungan yang sudah sangat jauh berbeda, musuh yang juga berbeda, dibesarkan dalam era teknologi yang jauh lebih berkembang dari masa lalu, apa kontribusinya terhadap masyarakat minimal di lingkup terkecil dari masing-masing kampus?

Pers mahasiswa adalah alat perjuangan. Bukan tentang kenaikan oplah dan peningkatan mutu pemberitaan yang menjadi prioritas, tetapi bagaimana pers mahasiswa menjadi wadah rembuk bersama yang pesannya bisa menembus dinding-dinding pengelompokkan yang primitif, apa pun wujud pengelompokkan itu. Untuk itu, pers mahasiswa harusnya tidak terasing dari komunitas masyarakat yang melingkupinya. Sebaliknya, ketika pers umum bias dan terkotak-kotak ketika mengupas isu yang sama, pers mahasiswa harus menjadi mediator bagi bertemunya gagasan dan pendapat publik, untuk kemudian dicarikan solusi yang memihak yang lemah.

Pers mahasiswa tidak harus selalu tergoda untuk membahas isu-isu besar dan berskala nasional –yang sudah pasti menjadi santapan dan keroyokan pers umum–. Jika ini yang selalu menjadi orientasi pers mahasiswa, bukan saja pers mahasiswa akan terlepas (decoupling) dari komunitasnya, tetapi ia juga pasti akan kalah bersaing dalam perebutan lahan yang sama dengan pers umum. Namun demikian, bukan berarti pers mahasiswa tabu nan haram menyentuh isu-isu nasional. Artinya semua yang terjadi diberitakan dengan jurnalisme ala mahasiswa.

Media Persma serta yang melatarbelakanginya

Sebagai persma tentu yang dilihat adalah produknya/medianya, sebuah respon lembaga/organisasi atas realitas/fenomena yang terjadi. Tentunya bekal ilmu mulai dari metodologi ilmiah (penelitian ilmiah, penelitian sosial, penelitian kualitatif maupun kuantitatif) plus metodologi jurnalistik didapatkan awak persma saat pelatihan-pelatihan jurnalistik dasar, lanjut hingga tingkat yang lebih profesional. Ciri khas masing-masing persma dibentuk dari lingkungan masing-masing lembaga. Politik redaksi, sistim kaderisasi, sistim pembelajaran wacana hingga masa aktif berorganisasi (SK Lembaga) hampir tidak seragam di masing-masing lembaga. Hal tersebut tentu berpengaruh pada tampilan fisik dan juga content media masing-masing lembaga. Faktor internal pun berdampak signifikan terhadap media terbitan seperti; tidak adanya dana penerbitan, minimnya anggota hingga kurangnya pengetahuan dasar tentang apa itu persma.

Pengetahuan tentang apa itu persma selalu menjadi borok yang selalu muncul tiap kali pengurus lembaga persma berganti. Sebenarnya cara paling mudah adalah membuka kembali catatan sejarah;Munculnya Persma. Ini tak bisa diganggu gugat! Cara selanjutnya adalah melihat kembali visi dan misi lembaga persma masing-masing, kenapa harus ada lembaga persma di masing-masing kampus dan juga fakultas.

Tentang permasalahan SDM; Poin pentingnya ada di strategi pengembangan kualitas SDM di masing-masing lembaga bukan kuantitas. Tipe mahasiswa (SDM) tentu berbeda-beda. Tipe yang agak menonjol adalah tipe professional student, ini tipe mahasiswa yang karena alasan tertentu lebih memilih menghabiskan masa mahasiswanya hanya untuk kuliah dan kuliah. Tipe lainnya adalah tipe pragmatis student, tipe mahasiswa yang paham terhadap peliknya persolan kampus, masyarakat dan negara, tapi tak punya kepercayaan diri untuk merubah keadaan, tipe ini sering diselimuti perasaan kurang pede bahkan ada pula yang tejebak menjadi penjilat birokrat untuk sekedar mencari aman, atau pula mencari jabatan. Tipe yang jadi minoritas adalah tipe activis student, tipe mahasiswa yang tercerahkan dan mempunyai visi yang besar untuk membangun tatanan kehidupan masyarakat yang berkeadilan sosial. Dari sini lembaga persma berkewajiban untuk menempatkan tipe-tipe tersebut dalam ruang yang tepat. Upgrading hukumnya wajib, sebagai peningkatan kapasitas anggotanya agar mempunyai pemahaman yang utuh tentang persma.

Adalah haram apabila titik tekan pengembangan SDM pada kemampuan individu dan spesialisasi (Spesialisasi sering diidentikkan dengan profesionalitas. Spesialisasi merupakan syarat yang ditawarkan adam smith untuk membentuk masyarakat kapitalis, yaitu: Pertama, Negara menahan diri; Kedua, Individu melakukan spesialisasi) apalagi dikaitkan dengan urusan aktualisasi diri. Semisal seorang fotografer hanya tahu persoalan foto, seorang reporter hanya tahu persoalan pencarian berita, seorang layouter hanya tahu persoalan tata letak,Tidak! Spesialisasi tidak dibenarkan, melainkan konsentrasi kerja. Konsentrasi kerja berorientasi akan pemahaman utuh, namun dalam kerja keseharian dilakukan pembagian kerja agar kinerja bisa efektif dan terkonsentrasi. Konsentrasi kerja juga mengutamakan kerja sama tim yang baik. (Konsentrasi kerja ditawarkan kaum sosialis untuk melawan spesialisasi. Dalam sejarahnya, orang-orang besar selalu punya pemahaman dan kemampuan yang multidisiplin ilmu (lintas disiplin ilmu). Bahkan seorang Bethoven merupakan ahli musik yang juga ahli matematik dan fisika, juga menguasai berbagai bahasa).

Adalah wajib dilakukan LPM untuk membekali para anggotanya dengan kemampuan analisis dasar terhadap kasus, peristiwa maupun fenomena. Perlu pemahaman lebih jauh terhadap kasus, peristiwa, maupun fenomena kaitannya dengan penulisan berita. Adapun pendekatan analisis dasar bisa dipecah menjadi beberapa pendekatan semisal filsafat dasar, pengantar teologi pembebasan, analisa sosial dasar, pengantar hukum kritis, analisa ekonomi dasar dll. Dalam proses ini anggota harus dibekali wacana kritis secara lebih radikal (mengakar alias sampai tuntas).

Hal yang patut untuk diingat bahwasanya Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dalam melakukan pengembangan SDM (atau bisa dikatakan pengkaderan) adalah mentranformasi ide-ide perjuangan bukan semata-mata untuk mencetak kuli tinta profesional alias wartawan.

Idealnya ketika ini semua sudah dilaksanakan dan diterapkan dalam masing-masing LPM maka media persma akan sesuai dengan definisi dan cita-cita bersama. Akan tetapi dalam kondisi kekinian media persma yang dihasilkan masih jauh dari definisi tersebut. Lantas apa yang salah?

Muncul spekulasi bahwasanya persma saat ini masih terlalu takut untuk berkreativitas, bereksperimen, takut salah dan takut meng’ada’. Atau mungkin persma saat ini memang lagi malas-malasnya beraktifitas dalam lembaganya masing-masing. Atau mungkin saya yang salah berspekulasi?

Tulisan ini disarikan dari;
- Pengantar diskusi pada Diklat Jurnalistik tingkat Lanjut Nasional oleh Lembaga Pers Mahasiswa Ekonomi Ecpose, Fakultas Ekonomi, Universitas Jember, 14 Mei 2001
.Khudori (Wartawan majalah berita mingguan GAMMA.)
-Pengantar diskusi DIKLAT Jurnalistik Se-jawa-Bali-Nusa Tenggara yang diadakan UAPKM-UB pada tanggal 13-15 Mei 2002, untuk materi Strategi Peningkatan Kualitas SDM Pers Mahasiswa .Rijal Asep Nugroho (Sekjend PPMI 2002-2004, Mahasiswa Teknik Elektro Udayana, Kord. Pengembangan SDM PMM Maestro FT Unud 2002-2003)
- Catatan Diskusi LitbangNas PPMI 2004 melalui Milis; Sebuah Catatan kecil Tentang Gerakan Mahasiswa Mereka Membidani Sejarahnya Sendiri,Lisabona Rahman

07/12/2011  Leave a comment