‘Rizky Akbari S’

Etika Misoh-Misoh

Misoh-misoh atau umpatan kata-kata yang sering di maknai negatif alias buruk dan biasanya menghina. Misoh-misoh sering kita ucapkan dan sering kita tulis sebagai bentuk kekesalan terhadap segala sesuatu, terhadap orang misalnya, keadaan yang memaksa kita mengumpat/misoh-misoh.

Lambat laun misoh-misoh tak selalu dipakai untuk menuangkan rasa kekesalan kita terhadap sesuatu, contoh: Saya lahir dan besar di Surabaya, ketika saya lama tidak bertemu teman-teman saya kata yang sering kami ucapkan “Cok, sek urip tah awakmu, tak kiro wez mati koen Cok”. Dalam hal ini kata-kata umpatan “Cok” bukan sebagai umpatan negatif terhadap teman saya melainkan rasa kerinduan yang sangat dalam dan hal ini wajar bagi kami. Tentu hal ini berbeda dengan keadaan masing-masing daerah maupun kota yang ada di Indonesia.

Salah satu contoh lagi: ketika saya dan teman-teman berkumpul dan salah satu teman melakukan hal bodoh di depan kami, maka kami akan langsung menanggapinya dengan tertawa keras dan berkata “Goblok koen Cok-Cok”, tak ada rasa kesal diantara kami. Umpatan dan hal konyol yang selalu terlontar tersebut menjustifikasi tindakan yang dilakukannya itu adalah konyol sehingga wajar pada saat itu kami melontarkan kata-kata tersebut.

Lalu bagaimana dengan kata-kata umpatan/misoh-misoh yang dilakukan di khalayak banyak, dituliskan di jejaring sosial macam FB, Twitter dan FS ? Apakah pantas ?

Menurut hemat saya itu tidak pantas dilakukan, liat saja Ruhut dalam pansus century, liat saja Luna Maya dalam status jejaring Twitternya. Umpatan/misoh-misoh hanya pantas dilontarkan dan diucapkan pada saat kita sedang berkumpul bersama kawan-kawan yang kita kenal dan dekat, bukan pada saat kita sedang berkumpul bersama kawan yang tidak kita kenal dan saat forum ataupun ajang diskusi serius. Apalagi umpatan yang dituliskan di jejaring sosial di mana kita tidak hanya terhubung dengan teman yang kita kenal dan tahu, banyak juga teman yang kita tidak kenal dan tahu, oleh karena itu tak pantas umpatan/misoh-misoh diimplementasikan di jejaring sosial harus ada kontrol terhadapnya, khususnya kontrol diri sendiri.

Umpatan alias misoh-misoh bisa berkonotasi negatif dan bisa pula positif tergantung penggunaannya pada situasi dan kondisi yang memungkinkan. Lagi-lagi ini semua kembali ke masing-masing individu, anda akan terus mengumpat tanpa memperhatikan situasi dan kondisi yang akan membuat anda di labeli dengan seorang yang kasar dan tak bermoral atau anda akan menjaga lidah dan tangan anda dari umpatan-umpatan yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan pada saat situasi dan kondisi tertentu.

Februari 6th, 2010 at 3:51 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink


BANGSA GILA

Gila selalu diartikan tidak waras, abnormal, sinting, bahasa jawanya gendeng, edan. “Kata kegilaan sering pula digunakan untuk menyatakan tidak waras, atau perilaku sangat aneh. Dalam pengertian tersebut berarti ketidaknormalan dalam cara berpikir dan berperilaku kurang wajar. Gila yaitu hilangnya suatau pikiran dikarenakan penyebabnya oleh setres atau ada masalah pribadi yg di alami oleh seseorang yg tidak waras tersebut. Yang mengakibatkan pikiran yg tidak terkendali dan akhirnya menjaddi berpikiran tidak waras, berperilaku aneh (tak wajar layaknya manusia biasa)” ini artian dalam Wikipedia Bahasa Indonesia.

Ketika orang bertingkah aneh, di luar batas kewajaran, kepatutan, nyeleneh, dan tidak mengikuti sistem maka orang tersebut akan di labeli dan dikatakan gila. Inilah persepsi saya tentang gila, yang selalu keluar dari sistem, norma dan batas-batas kepatutan maupun kewajaran. Saya contohkan; Suatu pertandingan sepak bola di Liga Indonesia dimana dua tim saling beradu di lapangan hijau, terjadi sebuah pelanggaran yang dilakukan tim A di kotak terlarang kemudian wasit menghadiahi tim B pinalti sebagai hukuman pelanggaran oleh tim A, yang kemudian terjadi adalah tim A protes dengan melakukan berbagai hal yang tidak sewajarnya kepada wasit di pertandingan itu, suporter tim A juga merasa kesal dengan keputusan wasit dan melakukan pelemparan hingga masuk ke dalam lapangan dan memukul, menendang, meludahi wasit. Orang-orang di tim A dan suporter yang melakukan tindakan anarkis tersebut saya anggap gila.

Satu contoh lagi; Ketika ada operasi pasar Sembako murah yang diperuntukkan warga kurang mampu, yang terjadi adalah kerumunan warga yang membeludak dan banyak dari warga mampu yang ikut-ikutan mengambil jatah Sembako yang seharusnya mereka tidak dapat, alhasil kerumunan yang membeludak tersebut memakan korban jiwa. Ini seharusnya tidak terjadi, maka warga mampu yang ikut mengambil jatah itu saya anggap gila. Jaman yang kita hidupi sekarang ini tak ubahnya Jaman Edan dimana orang-orangnya ikutan edan, kalau gak edan bisa gak keduman (kebagian).

Kasus-kasus macam korupsi merajalela dimana semua orang ikut-ikutan korupsi, korupsi waktu, korupsi nilai, korupsi uang dan korupsi bla.bla.bla. kasus Century-Gate, Sodomi, Pembobolan ATM, Pembunuhan hingga mutilasi, Silang sengkarutnya dunia pendidikan, UU ITE dan banyak lagi lainnya. Ini yang menegaskan bahwa sekarang ini jaman gila dan bangsanya pun ikut-ikutan gila. Tidak cukupkah kita telah dijajah beratus-ratus tahun oleh bangsa asing dan setelah terbebas, ternyata kita masih dijajah bangsa sendiri dan juga bangsa asing baru.

Effendy Ghazali dalam sebuah artikel di media cetak (Koran) yang menyebutkan bahwa bangsa kita ini adalah bangsa pelupa dan instan. Persepsi saya dari artikel tersebut adalah bangsa kita mudah melupakan kasus-kasus yang belum selesai ujungnya ditambah lagi muncul isu-isu baru dan kasus-kasus baru sehingga kasus yang pertama menjadi hilang entah kemana. Bangsa yang instan karena kita selalu suka dan menginginkan segala sesuatu yang instan atau karena bangsa kita adalah pengkonsumsi Mie Instan terbesar di Asia Tenggara.

Tak salah jika melihat perkembangan dan kenyataan yang terjadi sekarang ini, semakin memperkuat dan menegaskan bahwa bangsa kita adalah bangsa pelupa, instan dan juga gila. Kemana para Intelektual, Cendekia, Mahasiswa, Profesor, Doktor, Guru, Insinyur dan semua elemen masyarakat, apakah mereka ikut menjadi gila atau diam saja melihat kegilaan yang sedang terjadi sekarang ini.[]

Januari 23rd, 2010 at 12:31 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink


Berfikir Terbuka

Teringat akan sebuah nasehat yang selalu diucapkan orang Ibu saya:”Nak rajin sembahyang, jangan lupa berdoa supaya sehat selalu dan yang kamu cita-citakan akan mudah tercapai”. Nasehat itu masih sering saya ingkari, saya selalu lupa akan keberadaan “Tuhan”, hanya ketika saya sakit dan saya terdesak barulah saya ingat akan “Tuhan”.

Berulangkali nasehat tersebut diucapkan dan diingatkan pada saya, bahwa usaha saja tidak cukup, harus diiringi berdoa dan berserah diri atas semua kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Saya sempat menganalogikan ini pada peristiwa PKI, apakah usaha PKI dulu dalam pemberontakannya diiringi doa dan berserah diri pada “tuhan”, lalu kenapa hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Peristiwa BOM di beberapa kota di Indonesia dan terorisme juga terasa kental akan usaha yang dilakukan diiringi dengan berserah diri pada tuhan, tapi ternyata ajal pulalah yang ternyata menjemput mereka.

Saya jadi bingung, bukan bermaksud menyangkal akan adanya keberadaan Tuhan, tetapi lebih kepada niatan baik atau buruk menurut persepsi masing-masing individu saja, usaha yang mereka lakukan terasa tepatkah bila diiringi dengan berserah diri pada tuhan. Saya jadi berfikir, mungkin Tuhan yang menjawab doa mereka atas usaha yang dilakukan, atau kah ini hanya semata-mata ketidakmujuran si pelaku. Saya punya teman seorang maling, dia selalu berdoa agar tidak ketahuan warga dan berhasil dalam menjalankan misinya sebagai maling, hasilnya sampai sekarang teman saya masih selamat dan baik-baik saja.

Penggambaran akan nilai akan usaha yang dilakukan apakah baik dan buruk ternyata tidak bisa disimpulkan dengan terburu-buru. Kebenaran umum yang menjadi patokan, mungkin dapat dijadikan pembenaran, misal ketika ada seorang maling TV tertangkap basah oleh warga, warga yang berfikir buram pasti akan langsung memukuli hingga babak belur, sedangkan warga lain yang berfikir jernih tentu akan membawanya ke suatu tempat, menanyakan alasannya mencuri dan bla..bla..tanpa menggunakan kekerasan.
Cara pandang dan cara berfikir seorang individu tentu lah berbeda-beda, ini yang harus dipahami, bahwa berfikir dengan terburu-buru akan suatu masalah tentu akan berdampak kurang baik terhadap penyelesaian masalah tersebut. Andaikan ini diterapkan di Negeri kita tercinta ini tentunya akan sangat berdampak baik. Pemimpin Negara, wakil-wakilnya, menteri, pejabat instansi pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat menerapkan ini saya yakin Negara ini akan semakin baik.

Ketika orang mempunyai cara pandang dan berfikir yang lebih terbuka, tentunya juga mempunyai cara pandang yang terbuka akan masalah agama, ras, suku, golongan, partai, komunitas dan seluruh elemen-elemen lainnya maka akan tercipta kondisi yang selama ini kita idam-idamkan. Tentunya usaha-usaha ini tidak udah dilakukan, tapi apa yang tidak mungkin untuk dilakukan. Menunggu kematian datang tanpa melakukan suatu usaha apapun adalah sam saja mati. Terngiang lagi nasehat Ibu:”Sayangilah orang terdekatmu. mulailah dari saudara kandungmu sendiri”.

Januari 12th, 2010 at 3:05 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink


D.E.W.A.S.A

Dewasa, mungkin ini salah satu kata yang menempatkan saya dan khususnya semua orang yang saya kenal. Banyak dari teman saya berujar, menjadi dewasa itu bukan suatu keharusan tetapi lebih merupakan suatu pilihan. Tak sering dari kita lebih suka menjadi seorang anak-anak. Anak-anak sering kita ibaratkan sebagai sesuatu yang polos, bebas, riang gembira dan lain sebagainya, mencoba dan mengenal sesuatu hal yang baru dengan dan tanpa berfikir.

Saya jadi teringat ketika saya menjadi seorang anak-anak dimana semua hal yang saya sebutkan tadi saya lakukan, tetapi dibalik itu semua ternyata mulai dari kecil(anak-anak) secara tidak sadar kita mulai dikonstruk oleh lingkungan sekitar dan orang tua. Ibarat kertas putih kita diukir dan digambarkan menjadi sebuah objek yang mereka inginkan.

Beranjak remaja konstruk-konstruk yang mereka bangun di dalam diri kita mulai kentara jelas, seperti yang sering diucapkan para orang tua “kamu itu masih kecil tahu apa”.
Penyangkalan, perlawanan dan pemberontakan sering kita lakukan di masa itu tak pelak masa itu sering kita lihat sebagai masa kenakalan kita. Toh penyangkalan, perlawanan dan pemberontakan kita kebanyakan gagal dan ujung-ujungnya kita tetap sesuai di jalur yang telah diberikan mereka.

Lalu apa yang benar apa yang salah? Kita tidak pernah tahu dan merasakannya, orang tua selalu berujar liat kedepanmu nanti pasti kamu akan merasakan, sehingga pembenaran proses yang telah di set dan di konstruk oleh mereka terasa sangat benar dan wajar mengingat kita masih belum tahu apa-apa.

Dewasa ini merupakan suatu proses yang sangat penting dan terasa sangat lama, disini baru terasa apa yang seharusnya kita lakukan dan tidak kita lakukan. Masa kebebasan, tak ada yang mengatur-atur, seluruh proses dan konstruk kita pilih dan jalani sendiri. Hambatan, tantangan dan rintangan terasa sangat banyak dan berat di masa kita dewasa. Masa ini mungkin masa yang sangat krusial dalam hidup kita, seringkali orang tua menyalahkan “kegagalan” saat kita dewasa disebabkan karena penyangkalan, pemberontakan konstruksi awal yang dibangun mereka yang dilakukan sedari kita masih anak-anak. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut penilaian mereka. Sekali lagi proses Dewasa itu tidak lah mulus seperti yang mereka idam-idamkan, berbicara tentang sesuatu yang ideal takkan ada habis-habisnya, Jadi bukan merupakan suatu kesimpulan atas tulisan ini kembali ke anda para pembaca sekalian, menjadi dewasa memang bukan suatu keharusan tetapi merupakan suatu pilihan dan mau tidak mau kita akan menjadi dewasa nantinya.

Januari 9th, 2010 at 12:17 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink


Kibarkan selalu Bendera Setengah Tiang di bulan Desember

Judul yang saya tulis bukan berarti latah akan himbauan SBY atas berpulangnya K.H Abdurrahman Wahid, tetapi karena rekam jejak sejarah bulan desember yang selalu menimbulkan banyak duka daripada suka. Sejatinya pengibaran bendera setengah tiang selalu identik dengan masa berkabungnya para pahlawan atau juga orang yang berjasa dalam negara kita ini. Lambat laun pengibaran bendera setengah tiang tak hanya dialamatkan kepada para pejuang, pahlawan dan orang-orang yang berjasa di negeri ini, tapi menjadi bentuk keprihatinan atas apa yang melanda negeri kita ini.

Semisal harga bahan-bahan pokok macam sembako, minyak tanah sampai BBM pun pernah dilakukan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda wujud keprihatinan. Desember, bulan di penghujung tahun selalu menyisakan dan menghasilkan keprihatinan dan kedukaan mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Dimulai dari konflik-konflik daerah, masalah HAM, bencana-bencana alam, meninggal dunianya tokoh-tokoh penting dan revolusioner macam Soe Hok Gie, disahkannya RUU BHP dan lain sebagainya.

Di tahun ini dan di bulan desember ini muncul juga banyak keprihatinan yang kita rasakan, semacam pelarangan buku-buku, pelarangan pemutaran film-film pengungkapan borok-boroknya Negara, hingga yang terakhir ini mantan Presiden RI K.H Abdurrahman Wahid meninggal dunia di usia 69 tahun. Entah ada mitos apa di bulan desember ini, begitu banyak duka dan keprihatinan melanda kita dari tahun ke tahun.

Hal ini tidak boleh diyakini dan dipercayai sebab di bulan desember ini juga merupakan bulan yang banyak sukanya juga. Hal ini justru harus dijadikan pelecut semangat untuk berjaya dan khususnya berbenah diri. Kiranya ada banyak hal-hal positif yang masih harus kita ambil dan masih banyak juga hal-hal yang menjadi borok kita benahi dan perjuangkan agar borok tersebut tak terus menempel di tubuh kita ini. Sejatinya di setiap bulan Desember selalu kita kibarkan bendera setengah tiang dimulai dari tanggal 16 hingga tanggal 31 sebagai bentuk masa berkabung dan sebagai bentuk keprihatinan atas apa yang melanda kita. Kiranya di Purnama yang menghiasi malam terakhir di tahun ini mari kita berbenah diri, refleksi diri agar di tahun depan kita siap menghadapi aral dan rintangan yang pasti akan terjadi. Selamat Jalan Gusdur, Selamat Jalan para Pahlawan Revolusioner, semoga jiwamu tenang di Alam sana.[]

Desember 31st, 2009 at 12:36 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink